24 March 2011

DJ Riri Siap Berdamai dengan DJ Alvin, asal...

Continue Reading »

Guruh Soekarno Putra: Film Horor Perlu Didukung

IRFAN MAULLANAGuruh Soekarno Putra TERKAIT:Guruh: Soal Pajak Impor Film Harus ArifGuruh Soekarno Putra Bantah Kena Serangan Jantung Guruh Soekarno Putra Bela Produser Film Horor Lifetime Achievement AMI Awards Milik Guruh

JAKARTA, KOMPAS.com -- Terlepas dari citra bumbu esek-esek yang melekat pada film horor Indonesia, di mata seniman Guruh Soekarno Putra, film horor tetaplah harus didukung.

"Kalau mau mendukung ya tidak tanggung-tanggung tanpa memandang jenis filmnya," tegas Guruh saat premier film Misteri Hantu Selular di XXI Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (22/3/2011).

Diibaratkan genre musik, bagi Guruh perfilman Indonesia sudah sepatutnya didukung perkembangannya. "Karena seperti di musik kan banyak jenisnya ada jazz, ada pop dan sebagainya. Nah di film ini juga kan ada jenisnya termasuk horor yang perlu didukung," pungkas Guruh. 

Penulis: Irfan Maullana   

View the Original article
Continue Reading »

Menghadirkan Horor Tanpa Bumbu Seks

C13-11caption poster "misteri hantu selular"

JAKARTA, KOMPAS.com -- Setelah era film Jelangkung dan Tusuk Jelangkung berakhir, kini film horor kian menjamur. Sayangnya, di satu sisi perkembangan tersebut justru diikuti tren film horor berbumbu seks yang dianggap laku dikonsumsi masyarakat Indonesia. Namun, bagi sutradara Indra Tirtana, teori mengimbuhkan adegan seks di dalam film horor tak berlaku baginya.

Menurut Indra, film horor masih bisa diangkat nilai komersialnya dengan cara yang lain seperti mengemas jalan cerita sebaik mungkin. "Sebetulnya ini (horor) tidak memakan waktu yang cukup lama, dan laku. Jadi kami ingin melepas film horor tanpa mengumbar keseksian," jelas Indra dalam wawancara di peluncuran film horor Misteri Hantu Selular, XXI Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (22/3/2011) malam.

"Sebetulnya kalau ditanya apakah film ini ujicoba saya katakan ya, karena komersial itu tidak selalu diukur dengan seks atau apa," lanjutnya.

Hal senada juga diungkapkan produser Dianti Lalang Aurosa. Menurutnya, terlalu miris apabila bumbu seks menjadi langganan di setiap produksi film horor Indonesia. "Saya masih muda, saya masih harus memikirkan mental seorang gadis, saya pibadi sebagai wanita miris kalau horor dikemas dengan seks semata," kata Dianti.

"Saya agak bertaruh apakah masyarakat bisa menangkap ini (horor tanpa bumbu seks) secara komersial," timpal Indra.  

Penulis: Irfan Maullana   

View the Original article
Continue Reading »

Kekasih di Bui, Luna Makin Akrab dengan Anak Band

Continue Reading »

GIGI Mulai Jajal Ranah Film

KOMPAS IMAGES/ BANAR FIL ARDHI Personel grup musik GIGI. Dari kiri ke kanan, Thomas Ramdhan (bas), Gusti Erhandy (drum), Dewa Budjana (gitar), dan Armand Maulana (vokal). TERKAIT:Demi GIGI, Armand Janji Tak Solo KarierJalan Panjang Grup Band GIGI Dewi Gita Lelang Gitar SuamiGIGI Siapkan Kejutan untuk Ultah "Seventeen"

JAKARTA, KOMPAS.com -- Dua tahun lalu grup band GIGI meluncurkan sebuah buku, yang menceritakan perjalanan mereka selama 15 tahun. Nah, di usianya yang ke-17,  grup band yang digawangi Armand Maulana (vokal), Dewa Budjana (gitar), Thomas Ramdhan (bas), dan Gusti Erhandy (drum), itu menggarap videoklip single teranyar mereka, "Bye Bye" dalam format film pendek.

Adalah Dani "Pete", manajer GIGI, yang  memunculkan gagasan tersebut. "Itu idenya dari Dani 'Pete'. Di saat orang bikin video klip pendek-pendek untuk ngejar RBT (Ring Back Tones), kami malah bikin panjang berdurasi sepuluh menit sampai jadi film pendek," jelas Armand dalam jumpa pers Sweet Seventeen GIGI di Barcode, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (22/3/2011).

Disutradarai Eko Kristianto, video klip tersebut diperankan aktor Vino G Bastian dan Marsya Timothy. Alur cerita dimulai dengan percekcokan antara Vino dan Marsha, yang kemudian berlanjut ke adegan laga memperebutkan sebuah koper di atas atap gedung, yang membuat adrenalin mengucur deras.

Cukup yakin bisa dilombakan dalam sebuah festival film, GIGI berencana mendaftarkan video klip "Bye Bye" tersebut di ajang festival film pendek. "Semoga syarat-syaratnya sebagai film pendek terpenuhi," ujar Armand.

Lantas apakah GIGI tertarik bermain film sepenuhnya? "Hal itu juga pernah ditanyakan Eko, tapi saya bilang sampai detik ini kami belum mau beralih ke luar dari jalur musik," kata Armand. "Soalnya kalau kami ikut masuk di video klip, nanti video klipnya akan hancur. Tapi ini bukan berarti GIGI tidak akan ke situ (bermain film). Hanya saja keputusan saat ini belum ke sana," tutup Armand. 

Penulis: Irfan Maullana   

View the Original article
Continue Reading »

Nanti Malam Luvs Bar Gelar Wildnesday Society

Wildnesday Society

JAKARTA, KOMPAS.com - Nanti malam (23/3) LUV'S Bar & Dine (City Walk Sudirman Lt 1) akan mengadakan acara clubbing bertema Wildnesday Society pukul 22.00 WIB.

Berikut para pendukung acara nanti malam:



View the Original article

Continue Reading »

KPI Tolak SP3 Kasus Silet

IST"Silet" dihentikan sementara waktu oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyusul pemberitaan yang dinilai menyesatkan terkait peristiwa letusan Gunung Merapi. Namun, "Silet" mengajukan keberatan. TERKAIT:KPI: Penyidik Lamban Tangani Kasus "Silet"Mabes Polri Gelar Perkara Kasus "Silet"Tantowi: Laporan KPI ke Polisi Terburu-buru Polisi Akan Pelajari Laporan KPI soal RCTIKPI Laporkan Pimpinan RCTI

JAKARTA, KOMPAS.com — Mabes Polri berencana memutuskan untuk menghentikan penyidikan terhadap kasus dugaan berita bohong oleh infotainment "Silet". Hal tersebut telah disampaikan secara lisan oleh Mabes Polri kepada pihak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) selaku pihak pelapor.

"Mabes Polri beranggapan kasus ini tidak masuk unsur pidana," ujar Dwi Ria Latifa selaku kuasa hukum KPI, saat dihubungi via ponselnya, Rabu (23/3/2011).

Ria menganggap keputusan Mabes Polri untuk menghentikan proses hukum saat ini terlalu prematur. "Tentu kami protes. Saya katakan, 'Kenapa secepat itu mengambil keputusan kasus ini tidak masuk unsur pidana. Padahal, saksi dan bukti yang kami ajukan sama sekali belum diperiksa'," ujarnya.

Sebelumnya, pihak KPI mengajukan saksi-saksi, di antaranya Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X dan Wali Kota Yogyakarta. Ria menyayangkan karena dua saksi penting itu malah tidak dihadirkan. "Mereka (Sultan dan Wali Kota) termasuk pihak yang menyatakan keberatan terhadap penayangan 'Silet'. Mereka juga mengirimkan surat kepada KPI ketika itu," jelas Ria.

Hingga kini, pihak KPI belum menentukan langkah yang akan diambil selanjutnya. Ria mengatakan, pihaknya masih akan menunggu surat resmi SP3 dari Mabes Polri. "Kami akan terlebih dulu melihat isi surat tersebut. Setelah itu baru akan ditentukan. Yang jelas kami akan melakukan upaya hukum," tegasnya.

Dalam rapat dengar pendapat Komisi I DPR RI dengan KPI beberapa waktu lalu, kasus ini juga sempat dibahas. Dalam kesempatan tersebut DPR menyayangkan langkah MNC yang membawa masalah ini hingga ke PTUN.

Pada November tahun lalu KPI melaporkan tayangan "Silet" atas dasar UU No 32 tentang Penyiaran Pasal 6 ayat 5 dan beberapa beraturan lainnya. KPI menilai program yang ditayangkan stasiun televisi RCTI tersebut menyesatkan dan mengandung unsur berita bohong hingga menyebabkan keresahan masyarakat korban bencana Gunung Merapi.

Sebagai bukti, setelah penayangan program berdurasi satu jam tersebut, KPI menerima 1.128 aduan dari masyarakat. KPI juga melaporkan Hary Tanoesoedibjo, CEO PT Media Nusantara Citra (MNC) Tbk sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap materi siaran program-program RCTI. Namun, pihak MNC justru melaporkan KPI ke PTUN karena merasa lembaga negara itu melakukan diskriminasi.

Penulis: Irfan Maullana   

View the Original article
Continue Reading »